Sabtu, 19 Mei 2012

Sastra Indonesia

BAHASA SASTRA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI


Sampai sekarang masih sering diperdebatkan orang, perbedaaan antar bahsa satra dan bahasa sehari-hari. Lepas dari perbedaan itu, kenyataan menunjukkan bahwa para sastrawan yang berhasil jauh lebih intensif dalam mempergunakan dan "bermain-manin" dengan bahasa. Bahas dieksploitasi dan dipermainkan sedemikian rupa sehinga menarik dan mampu mengungkapkan pengalaman tertentu yang ingin dituangkan sastrawan dalam karyanay. Dalam karya-karya mereak (penyair, novelis, cerpenis, dan penulis naskah drama), kitaakan mendapatkan apa yang ad dalam ilmu sastra, khususnya stilistika, disebut sebagai metafora, personifikasi, hiperbol, ironi, paradoks dan sejenisnya. Dalam novel dan cerpen-cerpen Putu Wijaya, misalnya personifikasi, paralelisme dan hiperbol dimanfaatkan cukup intensif sehingga kita, ketiak membaca novel dan cerpen-cerpen Putu, menjadi terpikat. Apa yang dilakukan oleh parasastrawan dalam karya-karyanya iru secara tidak sadara atau tidak sadar juga kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Iklan-iklan di media massa adalah contoh yang paling jelas menunjukkan bagaimana masyarakat nonsastra turut serta "bermain-main" dengan bahasa, "bersastra-sastra". Dalam pergaulan muda mudi pun acapkali kita menemukan ungkapan "aku suka rambut kamu" atau "rambut kamu indah" untk menyatakan ungkaparan "aku suka kamu" atau "kamu manis". Disini kita temukan majas pars pro toto (menyebut sebagian dari benda/orang untuk menyatakan benda/orang itu keseluruhan) yang merupakan bagian dari majas sinekdoke/sunecdoche. Selain itu, ungkapan "wajahnya manis" ataupun "pandangan matanya sejuk" merupakan majas metafora. Bahkan ungkpan ironis pun sering kita denganr, misalnya "Kam uini kok pintar sekali dan sepkerjaan seperti ini saja tidak bisa kmu selesaikan", untuk menyatakan "kamu ini bebal". Sering kali kita temukan iklan-iklan yang mencoba-coba "bermain-main" dengan bahasa, tetepi hasilnya "konyol" dan terasa verbal. Iklan-iklan itu termasuk yang gagal "bermain-main dengan bahas". Untuk bisa "bermain-main" dengan bahasam kita barangkali perlu belajar dari para sastraawn dengan membaca karya-karya mereka, berusaha menikmati dan memahami majas dan gaya yang mereka pergunakan karena penggunaan majas dan gaya yang tepat akan sangat membantu dalam mengeksplorasikan secara tepat apa yang ingin kita ungkapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar